RE-DESAIN KORIDOR KAMPUS

 RE-DESAIN KORIDOR KAMPUS




Desain Interior adalah salah satu cabang seni rupa dan desain yang fokus terhadap perancangan ruang dan berbagai elemen-elemennya di dalam suatu bangunan. Desain interior digunakan untuk menciptakan ruang dalam yang nyaman serta mempertimbangkan aspek keindahan.


Dalam pembahasan kali ini adalah mengenai penerapan ilmu desain interior pada praktek Re-Desain lorong kampus yang dilakukan pada gedung E12 Fakultas Teknik Universitas Negeri Semarang. Re-Desain ini dilakukan oleh kelompok 3 mata kuliah Desain interior Rombel 1, pada Koridor ruang 105-108 gedung E12.


Re-Desain sebuah ruang interior tentu membutuhkan proses yang cukup kompleks yang terdiri dari survey langsung site, perencanaan konsep, perancangan desain, serta pengaplikasian desain secara nyata. Dengan berdasarkan ilmu yang ada pada desain interior diharapkan dapat menciptakan ruang yang nyaman dan estetis.


Tentunya terdapat keadaan site sebelum dilakukan re-desain serta proses-proses yang telah dilakukan oleh kelompok 3 untuk membuat koridor ruang 105-108 menjadi lebih nyaman, estetis, serta menarik perhatian orang yang melintas.


Berikut beberapa gambar site sebelum dilakukan Re-Desain beserta gambar-gambar Proses re-desain yang telah dilakukan.











Setelah melalui proses perencanaan dan perancang selama kurang lebih 4 minggu yang dilakukan oleh kelompok 3 maka diperoleh hasil kerja Re-Desain area koridor gedung E12 ruang 105 sampai 108. 


Pertama untuk tema, dipilihlah tema modern minimalis dengan memprioritaskan 3 hal, yaitu Geometric Aspect, Green Aspect, dan Prinsip Reuse.

Tema modern minimalis digunakan untuk menciptakan suasana koridor yang nyaman, sederhana, dan mempertahankan ruang yang cukup luas namun tetap terlihat modern. 


Berikut merupakan hasil kerja kelompok 3 pada koridor ruang 105 sampai 108.



Pertama, pada dinding ruang 105, dibentuk susunan papan kayu hexagonal, yang dipadukan dengan tanaman artifical dan dibagian atasnya ditambahkan tulisan architecture unnes, yang terbuat dri kayu balsa. Bagian ini menggunakan geometric aspect pada bagian hexagon, kemudian green aspect pada tanaman artifical. Digunakan warna asli kayu untuk mempertahankan sisi minimalis.



Selanjutnya pada lorong antara ruang 105 dan 108, pada sisi kanan, digunakan papan kayu hexagon yang sama dengan dinding 105. Papan kayu dimaksudkan agar kedua sisi desain terlihat serasi. 

Kemudian pada sisi kiri, digunakan cermin segiempat, dan ditambahkan bingkai kayu hitam disekelilingnya. 

Bingkai kayu yang digunakan menggunakan prinsip reuse, dimana bingkai merupakan benda yang dimanfaatkan kembali dari hasil karya mahasiswa arsitektur unnes yang sudah rusak atau usang. Ditambahkan aksen green aspect dengan tanaman artifical dan geometric aspect dari papan hexagon dan kayu balsa.



Pada bagian depan koridor ditambahkan sedikit tanamam artifical menggantung pada langit langit, sebagai green aspect.





Selanjutnya pada dinding  ruang 108, ruang kosong yang tersedia terbatas, sehingga dipikirkan bagaimana cara mengisi ruang sempit tersebut dengan baik. Bagian kanan digunakan hasil karya mahasiswa, berupa nirmana dengan bingkai dari kayu balsa. Kemudian pada bagian kiri digunakan susunan kayu balsa yang kemudian ditambahkan bingkai hitam. Nirmana disisi kanan dan bingkai hitam disisi kiri menggunakan prinsip reuse, karena berasal dari pemanfaatan hasil karya mahasiswa yang tidak digunakan dan dalam keadaan rusak atau usang. 


Video Proses dan Presentasi hasil Re-Desain 





Secara keseluruhan, kelompok kami merasa cukup puas dengan hasil yang sudah kami kerjakan. Dari proses perencanaan dan perancangan memang tidak semuanya berjalan mulus, namun pada akhirnya apa yang kami hasilkan sesuai dengan apa yang kami harapkan. Tentunya masih ada beberapa hal lain yang bisa lebih ditingkatkan kedepannya sebagai proses belajar. 


Itulah keseluruhan hasil perancangan kembali koridor gedung E12 pada ruang 105 sampai 108.




Komentar